Nur (50) perajin ketupat kulit saat menjajakan dagangannya di Pasar Bukit Sulap, Jum'at (9/8/2019). Foto : Rio Silmed
in

Rezaki Tahunan Perajin Ketupat Kulit Lebaran

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Perajin ketupat kulit tampak memadati Pasar Bukit Sulap (PBS) Kelurahan Pasar Satelit, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, dua hari menjelang Idul Adha 1440 hijriah atau tepatnya Jum’at (9/8/2019) malam.

Hiruk pikuk jalan di Pasar tak membuat sejumlah ibu yang duduk di depan toko kelontong terganggu. Mereka tetap saja berkonsentrasi kerja. Dengan cekatan, tangannya mengambil selembar janur atau daun pohon kelapa berwarna kuning, kemudian dibentuklah selongsong sebagai wadah ketupat Lebaran.

“Kalau sudah terbiasa, dalam lima menit bisa menyelesaikan pembuatan ketupat kulit. Kecepatan pembuatannya bergantung masing-masing orang,” kata Nur (50) yang duduk lesehan sambil terus bekerja, Jum’at (9/8/2019).

Menurutnya ketupat merupakan sajian utama yang wajib ada pada hari raya Idul Fitri ataupun Idul Adha.

“Cobalah perhatikan, di setiap lebaran pasti ada orang yang menghantarkan ketupat,” ujarnya.

Perajin lainnya, Nanda (24) menyampaikan bahwa dirinya senjaga menjual ketupat kulit, satu atau dua hari menjelang Lebaran, supaya janurnya masih tetap bagus warnanya, tidak layu.

“Ketupat kulit Lebaran yang saya jual harganya Rp5 ribu per ikat. Setiap ikat berisi enam ketupat kulit,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengapa dirinya menjual ketupat kulit bukan yang lain, Nanda menjawab karena untuk wilayah perkotaan seperti Lubuklinggau cukup jarang orang yang pandai membuat ketupat kulit.

“Kalau di Kota pasti jarang orang yang bisa membuat ketupat kulit, sehingga untuk memperingkasnya mereka tinggal membelinya di pasar,” terangnya.

PENULIS : Rio Rivaldo
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Peningkatan SDM, ABPEDNAS MoU dengan Unmura

Pedagang dan Pembeli Keluhkan Sampah Menumpuk di Pasar Simpang Periuk