Pelajar SMP di Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara tetap bersekolah kendati hampir di seluruh wilayah di kepung kabut asap, Kamis (19/9/2019). Foto : Adi Silmed
in

Polusi Tinggi, Pelajar di Paksa Tetap Sekolah

MURATARA, Silmed.id – Meski berpolusi tinggi namun pelajar di wilayah Kabupaten Muratara, tetap dipaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah kepungan kabut asap. Hingga saat ini, Pemerintah Daerah belum mengambil sikap terkait dampak negatif kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di tengah dampak bencana itu.

Endang (17) pelajar SMP di wilayah Kecamatan Rupit, yang sempat di bincangi Silampari Media, Kamis (19/9/2019) mengatakan saat ini mereka terus melaksanakan belajar di sekolah kendati hampir di seluruh wilayah di kepung kabut asap.

Dia mengaku, banyak rekannya menggunakan masker pelindung namun banyak juga pelajar yang tidak memakai masker.

“Kalau mau pergi sekolah sepanjang jalan itu kabut asap. Di wilayah kita banyak lahan yang terbakar jadi asapnya lebih sesak,” katanya.

Dia juga mengungkapkan, sudah banyak rekan-rekan mereka yang terserang penyakit. Baik penyakit batuk filek, atau penyakit demam sehingga tidak bisa bersekolah.

Pihaknya berharap, guru-guru bisa mengambil kebijakan dengan meliburkan kegiatan belajar mengajar karena kabut asap semakin pekat.

“Pengenyo di rumah bae, kalau di sekolah jugo idak fokus mau belajar tapi pengap timbulnyo sesak, ” ujarnya.

Sulastri salah satu wali murid yang sempat dibincangi menuding Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan, sangat tidak toleran terhadap dampak kesehatan akibat bencana kabut asap di Muratara. Padahal hampir setiap pagi polusi kabut asap terlihat semakin pekat.

“Sekolah semestinya diliburkan, nanti ada yang mati baru ada tindakan. Masalah kesehatan itu lebih utama ketimbang masalah pendidikan, seharusnya Pemerintah lebih peka soal itu,” ungkapnya.

Dia meminta Pemerintah Daerah, segera menerapkan status darurat kabut asap khususnya di wilayah Muratara dan sekitarnya.

Sampai saat ini insiden kebakaran lahan dan kabut asap masih terjadi di wilayah Muratara. Dia juga mendapatkan informasi, jika polusi udara di wilayah ibu kota Kabupaten Muratara berpolusi tinggi dan tidak layak untuk kesehatan.

Kondisi itu bisa dilihat secara langsung melalui Web Airvisual yang menginformasikan kepekatan polusi di Muara Rupit mencapai angka 155 dengan kategori tidak sehat.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Muratara Sukamto, menyatakan pihaknya masih menunggu Dinas Kesehatan untuk menetapkan kebijakan sekolah terkait bencana kabut asap.

“Kita akan melakukan pengecekan indeks polusi udara, saat ini Dinas Kesehatan tengah melakukan pengujian sampel. Nanti hasilnya menentukan, kalau udara tidak bagus maka sekolah kita liburkan, saat ini PAUD sudah kita liburkan tapi untuk SD dan SMP memang belum,” ucapnya singkat.

PENULIS : Adi
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Kisah Para “Pembisik” di Lingkaran Kekuasaan

Sindir Pemda, Masyarakat Tiga Desa Gelar Salat Istisqa