Dua orang yang menangkap ikan menggunakan bahan dan alat terlarang ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Ilustrasi
in

Penangkapan Ikan Menggunakan Bahan dan Alat Terlarang Marak Terjadi

MUSI RAWAS, Silmed.id – Pada musim kemarau debit air sungai menjadi kecil, hal itu membuat marak terjadinya penangkapan ikan dengan menggunakan bahan dan alat terlarang.

“Sekarang anak sungai Musi sudah di putas, jika sungai Musi di setrum,” kata Jau (55) warga BTS Ulu, kepada Silampari Media, Rabu (7/8/2019).

Aksi memutas ikan sambung dia, dikarenakan debit air sudah kecil, karena sudah lama tidak hujan. Sehingga memutas ikan tidak membutuhkan potassium terlalu banyak.

“Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, perlu tidakkan dan sosialisasi dari instansi terkait, sebab aksi penyetruman ikan sudah sering menelan korban jiwa, sedangkan potassium akan menganggu kesehatan, sebab yang digunakan zat kimia,” cerita dia.

Dilain pihak, Kepala Dinas Perikanan (Disperikan) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Bambang Hariadi melalui Sekretaris, Ervan Malik menyampaikan, menangkap ikan menggunakan bahan dan alat terlarang melanggar Undang-Undang (UU) Perikanan Nomor 31 Tahun 2009 dengan sanksi penjara lima tahun dan denda Rp1,2 Miliar.

Dijelaskannya, bahwa dalam upaya pencegahan kebiasaan masyarakat terutama dimusim kemarau yang menangkap ikan dengan menggunakan bahan dan alat terlarang. Maka pihaknya melakukan sosialiasi di Kelurahan Muara Beliti yakni UU Perikanan Nomor 31 Tahun 2009 dan Peraturan Daerah (Perda) No 11 tahun 2005 tentang larangan menangkap ikan dengan menggunakan bahan dan alat terlarang seperti bahan racun, pottasium atau zat-zat kimia serta menggunakan listrik atau strum yang membahayakan kelangsungan hidup biota perairan.

“Disamping sosialisasi kami juga melayangkan surat edaran ke Kecamatan dan Desa tentang Perbup dan UU tersebut,”jelasnya.

Menurut dia, pihaknya akan memasang papan tanda larangan menangkap ikan dengan menggunakan bahan dan alat terlarang di tiga lokasi yakni Bendungan Gegas Kecamatan Sukakarya, Kelurahan Muara Beliti dan Kelurahan Sumber Harta.

“Perikanan sifatnya melakukan pencegahan saja. Sedangkan, kalau untuk penindakan merupakan kewenangan dari penegak hukum,”terangnya.

Menurutnya, jika tradisi masyarakat yang menangkap ikan menggunakan bahan dan alat terlarang terus berlanjut maka akan mengancam populasi biota air. Apalagi, hasil tangkapan ikan cenderung menurun.

“Untuk menjaga populasi biota air tidak punah. Maka kami melakukan resstoking atau menyebar benih ikan untuk mengembalikan populasi dimusim kemarau,”paparnya.

Mengenai sanksi bagi pelaku yang menangkap ikan dengan menggunakan bahan dan alat terlarang. Maka dirinya mengakui sesuai UU Perikanan Nomor 31 Tahun 2009 penjara 5 tahun dan denda Rp1,5 miliar serta sesuai Perda No 11 tahun 2005 denda Rp5 juta dan kurungan 6 bulan.

Sementara itu, Kapolres Kabupaten Mura, AKBP Suhendro menegaskan bahwa pemutasan, nuba, nyetrum dan lain sebagainya terhadap ikan di sungai melawan hukum.

“Apabila ada masyarakat tertangkap tangan meracuni kelestarian ikan di sungai maka tindakan tegas akan diberikan,”pungkasnya.

PENULIS : Dedi Ariyanto
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Menanti Hasil “Perang” Air Versus Tanah Pasca Robohnya Tanggul di Siring Agung

Polsek Lubuklinggau Selatan Serahkan Pelaku Penusukan ke Dinas Sosial