Nasar (baju merah) sedang menggerinda golok buatannya untuk menajamkan mata goloknya di depot pandai besi miliknya di RT 01, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kamis (01/08/2019). Foto : Bayu Silmed
in

Nasar, Pandai Besi Yang Terus Pertahankan Tradisi

LUBUKINGGAU, Silmed.id – Kelurahan Sumber Agung di wilayah Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau memiliki satu pengrajin besi tradisional yang masih bertahan ditengah gempuran peralatan-peralatan pertanian dan rumah tangga impor. Di tempat itu menjadi sentra pembuatan perkakas tajam langganan warga sekitar.

Silampari Media menyambangi dan mendulang cerita Nasarudin (45) sang penempa besi serta perajin golok, pisau, sabit yang masih eksis di tengah majunya zaman, Kamis (01/08/2019).

Tangan pria tersebut sudah terangkat untuk bersiap menghantamkan palu dalam genggaman mereka. Satu tangan lagi dengan alat penjepit meletakkan batang besi yang baru keluar dari perapian. Tak butuh lama, batang besi membara yang diletakkan dalam tonggak khusus itu terkena hantaman palu.

Gerakan penempa besi itu begitu rapi. Selesai satu ayunan diikuti ayunan lainnya sehingga menimbulakan suara yang seolah-olah membentuk irama.

Setelah pipih, batang besi membara lainnya mendapat giliran terkena hantaman. Kendati bekerja diselingi canda, ia tetap serius menempa dan membentuknya menjadi golok. Begitulah keseharian Nasar di RT 01, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Selain itu Nasar juga mempunyai depot kecil lainnya di Kelurahan Petanang Ulu, Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Nasar biasanya membuat perkakas tajam berupa golok, sabit, pisau dan parang.

Cakupan usahanya menjangkau sebagian warga Lubuklinggau Utara I, selain itu hasil kerajinannya juga diminati oleh warga luar daerah, ia biasa mengirim hasil kerajinannya ke Musi Rawas, Muratara, bahkan hingga Provinsi Bengkulu.

“Alhamdulillah 15 tahun menggeluti usaha ini hasil kerajinan kami sudah mempunyai nilai jual sendiri di tengah masyarakat, tentu dengan mengutamakan kualitas serta pelayanan yang baik,” ungkap pria warga RT. 01, Kelurahan Sumber Agung tersebut.

Nasar menyatakan, produk khas pandai besi miliknya berupa golok. Meski demikian, ia tetap melayani pesanan pembuatan sabit, parang, pisau. Bahkan ia menerima pesanan khusus berdasarkan pola tertentu yang diinginkan pembeli.

Dalam satu hari, Nasar mampu memproduksi 20 goleran atau bilah golok tanpa gagang untuk menggenggamnya. Pembeli rata-rata merupakan pengepul dari pasar Kalimantan maupun pasar Beliti. Namun, ada juga warga yang sengaja datang membeli langsung kepadanya. Pengepul atau tengkulaklah yang memasang gagang dan memoles golok sehingga laik diedarkan dan dijual kembali.

Golok-golok itu dijual per kodi atau 20 goleran dengan harga Rp440 ribu. Dengan demikian, harga satu goler golok mencapai Rp22 ribu.

Nasar mengungkapkan kemampuannya di dapat secara otodidak.

“Saya belajar sendiri dari tempat tinggal saya sebelumnya. Pandai besi adalah pekerjaan yang susah-susah gampang, makanya menjadi tantangan sendiri bagi para pengrajinnya. Pandai besi tradisional inikan tradisi, dari empu-empu zaman kerajaan, menurut saya menjadi pandai besi sama saja memelihara tradisi,” ujar Nasar.

Nasar mengaku saat ini belum berani mengembangkan usahanya atau mencari karyawan karena masih membutuhkan modal lebih.

“Ada niat untuk mengrmbangkan pasar, namun modal masih belum punya, harapan kami kepada pemerintah untuk bisa memberikan bantuanlah baik berupa pinjaman atau bantuan lainnya. Karena kami ini kan UMKM memang sangat butuh bimbingan dari pemerintah,” sambung Nasar.

Ia berharap pada realisasi dana kelurahan nanti agar dirinya mendapatkan bantuan.

“Kalau bisa UMKM saya ya bisa dibantu dengan dana kelurahan karena kan ada bantuan untuk UMKM dan pengembangan usaha ekonomi produktif kelurahan, saya siap kerjasama untuk pegembangan. Karena saat ini kendala utama adalah modal,” ujarnya menambahkan.

Nasar saat ini masih terus akan memproduksi alat-alat rumah tangga maupun pertanian di tengah musnah perlahannya pandai besi-pandai besi tradisional.

Kini, Nasar hanya menjadi menunggu dengan terus memajang dan menjual produk-produk olahannya. Entah sampai kapan ia bertahan di tengah serbuan perkakas-perkakas impor di negeri ini. Namun, ia tetap berkarya saban hari, demi urusan sesuap nasi dan memelihara warisan tradisi.

PENULIS : Bayu Pratama Sembiring
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Pemdes Mandi Aur, Gelar Competition Futsal

Wako Hadiri Peletakan Batu Pertama Masjid Al-Ikhlas Kelurahan Cereme Taba