Petugas Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kota Lubuklinggau sedang membersihkan sampah di TPSS Pasar Satelit, Rabu (27/11/2019) pagi. Lebih kurang 150 ton sampah "diproduksi" Lubuklinggau setiap harinya.
in

Linggau “Produksi” 150 Ton Sampah Perhari

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Kota Lubuklinggau yang memiliki program “Ayo Ngelong Ke Lubuklinggau 2022” masih belum memiliki solusi pasti dalam menuntaskan permasalahan sampah yang ramah lingkungan serta efisien. Saat ini Lubuklinggau masih menerapkan sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbuka, atau sistem pembuangan akhir dengan cara menumpuk sampah di lahan yang luas dan dibiarkan begitu saja tanpa diolah lebih lanjut.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Lubuklinggau, Subandio Amin, Bumi Sebiduk Semare setiap harinya “memproduksi” lebih dari 100 ton sampah.

“Sekitar 100-150 Ton sampah perhari yang kami angkut ke TPA, kebanyakan sampah rumah tangga dan limbah kelapa,” ungkap Subandio kepada Silmed.id, Rabu (27/11/2019).

Sampah-sampah tersebut diangkut dengan setidaknya melibatkan 10 unit truk sampah setiap pagi dan sore hari. Kendati demikian, Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) di Lubuklinggau turut andil dalam memperburuk citra Kota Lubuklinggau.

“TPSS itu sebenarnya kan tempat untuk membuang sampah sebelum diangkut ke TPA, namun justru oleh masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik, mereka melempar sampah dari dalam mobil atau dari kendaraan yang berjalan sehingga sampahnya berhamburan di pinggir jalan. Kan justru malah memperburuk,” sambung Subandio.

Pihak DLH Lubuklinggau berencana untuk membongkar 10 TPSS yang ada agar tidak semerawut lagi. Saat ini telah dibongkar tiga TPSS dan dijadikan taman, yakni di belakang Masjid Agung, Simpang Nangka, dan di depan Gedung DPRD lama. Namun solusi tersebut dirasa hanya akan menutupi “penyakit” bukan menyembuhkannya.

Pemkot Lubuklinggau dari tahun ke tahun selalu memiliki rencana untuk masalah sampah namun minim eksekusi. Seperti pada tahun 2014, Walikota Lubuklinggau berjanji akan membuat Bank Sampah di setiap kelurahan untuk mengurai masalah sampah, namun sampai saat ini tidak pernah terealisasi. Pada tahun 2017 Pemkot juga telah mencanangkan untuk bekerjasama dengan perusahaan yang bisa mengelola sampah, namun sampai saat ini masih dalam tahap wacana.

“Kedepannya kami akan bekerjasama dengan perusahaan yang bisa membuat sampah menjadi debu, kompos, dan gas metana, sehingga masalah sampah bisa teratasi,” terang Subandio berencana.

Lubuklinggau harus terus berbenah jika ingin “Ayo Ngelong ke Lubuklinggau” Sukses, terutama masalah sampah. Apalagi sejak tahun 2014 Walikota memiliki wacana dan ambisi untuk merengkuh gelar Adipura Kencana, namun sampai hari ini masih menjadi mimpi.

PENULIS: Bayu Pratama Sembiring
EDITOR: Aulia Azan Siddiq

Sinar Kopi, Sensasi Minum Kopi Dari Biji Kopi Berkualitas

Lounching Samsat Corner Banjir Doorpize