Ilustrasi
in

Krisis Sinyal, Letak Geografis Jadi Kendala‎ Utama

MURATARA, Silmed.id – Hingga saat ini sebagian warga di Kabupaten Muratara masih mengalami krisis sinyal telekomunikasi. Kendati pemerintah telah melakukan Memorandum Of Understanding (MoU) dengan PT Telkom, masih banyak kendala yang mesti dihadapi pemerintah daerah.

Kepala Dinas Komunikasi dan Perhubungan Muratara Alha Warizmi mengatakan, pihaknya mengakui memang diwilayah Muratara masih ada daerah yang mengalami blank spot area. Krisis sinyal di Muratara didominasi permasalahan letak geografis Kabupaten Muratara yang dikelilingi perbukitan.

“Memang masih ada daerah yang alami krisis sinyal di wilayah kita. Tapi kami targetkan 2020 nanti Muratara bebas blank spot area,”katanya, Kamis (3/10/2019).

Data yang mereka terima dari Kabupaten Induk, ada sekitar 50 tower telekomunikasi yang telah di dirikan di wilayah Muratara. Namun untuk yang berfungsi jumlahnya tidak lebih dari 10 tower. Kendala lainnya yang dihadapi lantaran beberapa alasan khusus, seperti rusaknya generator tower akibat aliran listrik di Kabupaten Muratara sering tidak stabil, aksi pencurian generator yang dilakukan oknum warga.

Selanjutnya, Dinas Kominfo Muratara berjanji akan melakukan beragam trobosan.‎ Di 2019 sudah mendapatkan 22 penguat sinyal bantuan dari kementrian, di 2019 akhir dapat lagi 23.“Sekarang masih ada beberapa wilayah lagi yang krisis sinyal. Tapi di 2020 akan kita usulkan lagi supaya seluruh wilayah Muratara, bebas dari blank spot area,” bebernya.

Alha Warizmi mengatakan, sejumlah bantuan penguat sinyal yang di dapatkan dari Kementerian itu, akan disebar ditujuh wilayah kecamatan dengan spot-spot seperti sekolah dan pusat kesehatan.“Karena spot di sekolah dan pusat kesehatan sangat penting jadi kita prioritaskan,” tegasnya.

Bagi daerah lain yang belum mendapatkan bantuan penguat sinyal, pihaknya mengungkapkan akan terus di usahakan oleh Pemerintah.“Tentunya kita usulkan lagi, karena daerah kita memang menjadi daerah yang prioritas untuk bantuan penguat sinyal,” tutupnya.

Terpisah. Hailan warga Desa Lubuk Kumbung, Kecamatan Karang Jaya, mengaku sampai saat ini wilayah mereka masih sangat sulit menjangkau jaringan telekomunikasi. Pasalnya, Desa Lubuk Kumbung merupakan desa yang berada di balik areal perbukitan.“Sekarang masih susah dapat sinyal, kalau mau menelpon mesti lari ke tempat tinggi baru ada sinyal tapi tetap tidak stabil,”katanya.

Dia berharap, krisis sinyal diwilayah mereka cepat teratasi sehingga masyarakat bisa secara leluasa mengakses informasi khususnya berbasis digital.”Jaringan sinyal saja sulit apa lagi mau internetan. Harapan kami masalah sisnyal ini bisa secepatnya teratasi,” pintanya.

PENULIS : Adi Hidayat
EDITOR   : Dedi Ariyanto

Disbun Lakukan Peremajaan Kabun Karet

Nyadap Karet, IRT Tewas Diserang Babi Hutan