Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memberikan keterangan kepada wartawan terkait penetapan dirinya sebagai tersangka oleh KPK, di Widya Chandra III, Jakarta, Rabu, 18 September 2019. KPK menetapkan Imam Nahrawi sebagai tersangka kasus dugaan suap pemberian dana hibah KONI.
in

KPK Tetapkan Sayidul Amin Mangku Raga Sebagai Tersangka

JAKARTA, Silmed.id – KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi sebagai tersangka baru kasus dugaan suap terkait dana hibah KONI dari Kemenpora, Rabu (18/9/2019).

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata saat menggelar konferensi pers di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

“Dalam penyidikan tersebut ditetapkan 2 orang tersangka, yaitu IMR (Imam Nahrawi) dan MIU (Miftahul Ulum),” ujarnya.

Imam Nahrawi yang pernah menerima gelar kehormatan dari Pemangku Adat Kota Lubuklinggau ‘Sayidul Amin Mangku Raga’. Pemberian gelar tersebut berdasarkan Surat Keputusan Lembaga Adat nomor 66/LPA-G/Bid.Adat/VII/2017 tertanggal 30 Juli 2017 yang mempunyai arti sebagai Guru Besar yang terpercaya memberikan bimbingan dan tuntunan jiwa dan raga kepada generasi muda.

“Alhamdulillah dan terima kasih atas pemberian gelarnya, semoga semakin memotivasi dalam memajukan generasi bangsa dalam bidang kepemudaan dan keolahragaan, mohon doa semua agar tetap amanah dan istiqamah,” ucap syukur Menpora pada waktu itu.

Miftahul merupakan asisten pribadi dimana ia sudah terlebih dahuulu ditahan KPK pada awal bulan ini. Kasus ini merupakan pengembangan kasus dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Pada kasus awal, KPK menjerat 5 tersangka, yaitu Ending Fuad Hamidy, Johnny E Awuy, Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko Triyanto.

Ending dijerat dalam jabatannya sebagai Sekjen KONI, sedangkan Johnny sebagai Bendahara Umum KONI. Baik Ending maupun Johnny telah divonis bersalah dalam pengadilan, dengan hukuman 2 tahun 8 bulan penjara bagi Ending dan 1 tahun 8 bulan penjara bagi Johnny.

Sedangkan 3 orang lainnya, yaitu Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko Triyanto, masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Alexander Marwata mengatakan pihaknya menduga selama periode 2014-2018 Ulum telah menerima Rp14,7 miliar. Selain itu, Imam juga diduga menerima Rp11,8 miliar selama 2016-2018. Sehingga total uang yang telah diterima Imam secara keseluruhan berjumlah Rp 26,5 miliar.

Menurut Alex sebagian uang itu diterima terkait pencairan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia tahun anggaran 2018. Selain itu, sebagian uang itu juga diduga diterima Imam sebagai Ketua Dewan Pengarah Satuan Pelaksana Tugas Program Indonesia Emas dan terkait jabatan Imam Nahrawi lainnya di Kemenpora.

“Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi dan kepentingan lainnya,” kata Alex.

Kalangan penggiat antikorupsi menilai, terbongkarnya kasus Imam merupakan bukti keberanian dan keberhasilan KPK. Selain Imam, sebelumnya Menteri Sosial Idrus Marham juga ditangkap Komisi Antikorupsi. Indonesia Corruption Watch mencatat juga KPK telah menangkap 23 anggota DPR dalam lima tahun terakhir. Kasus Imam merupakan satu contoh mutakhir kenapa KPK akhirnya dijinakkan.

Source : Tempo

Erwin Kusuma Jaya Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

Lampu Lalulintas di Muratara tak Bermanfaat