in

KPK Resmi Tahan Warga Kehormatan Lubuklinggau

JAKARTA, Silmed.id – Komisi Pemberantasan Korupsi menahan warga kehormatan Lubuklinggau yang nobatkan pada 30 Juli 2017 lalu, Imam Nahrawi, terhitung mulai Jumat (27/9/2019) untuk 20 hari ke depan.

“IMR (Imam Nahrawi), Menteri Pemuda dan Olahraga 2014-2019 ditahan 20 hari pertama di Rutan Pomdan Jaya, Guntur,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis.

Imam yang juga sempat memimpin Upacara 17 Agustus tahun 2017 di Bumi Sebiduk Semare. “Gelar saya itu Syaidul Amin Mangku Raga. Artinya Guru besar terpercaya memberi jiwa raga generasi muda. Gelar ini ditetap kan oleh Lembaga Penasihat Adat Kota Lubuk Linggau,” ungkap Imam Nahrawi waktu itu.

Syaidul Amin Mangku Raga resmi ditahan atas statusnya sebatai tersangka kasus suap terkait dana hibah Kemenpota kepada KONI pada Tahun Anggaran 2018. Dia ditahan setelah menjalani pemeriksaan hari ini.

Pantauan Kompas.com, Imam keluar dari Gedung Merah Putih KPK dengan mengenakan rompi tahanan warna oranye dan tangan berbogol. Ia menutupi tangannya yang terborgol dengan map berwarna merah muda.

KPK menetapkan Imam Nahrawi beserta asisten pribadinya, Miftahul Ulum, sebagai tersangka dalam kasus penyaluran dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia melalui Kemenpora tahun anggaran 2018.

“Dalam penyidikan tersebut ditetapkan dua tersangka, yaitu IMR, Menteri Pemuda dan Olahraga dan MIU, Asisten Pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Mareata dalam konferensi pers di Gedung KPK, Rabu (18/9/2019).

Alex menuturkan, Imam diduga telah menerima suap sebanyak Rp 14.700.000.000 melalui Miftahul selama rentang waktu 2014-2018.

Selain itu, dalam rentang waktu 2016-2018 Imam juga diduga meminta uang senilai Rp 11.800.000.000.

“Sehingga total dugaan penerimaan Rp 26.500.000.000 tersebut diduga merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora tahun anggaran 2018,” ujar Alex.

Di samping itu, KPK juga mendalami dugaan suap terkait kewenangan-kewenangan lain dan posisi-posisi lain dari Imam.

Imam Nahrawi menyebut penahanannya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan takdir yang ia harus jalani.

Imam mengatakan, ia akan mengikuti proses hukum yang harus dilaluinya sebagai tersangka kasus suap dana hibah Kemenpora ke KONI.

“Sebagai warga negara tentu saya harus mengikuti proses hukum yang ada dan saya yakin hari ini takdir saya, dan setiap manusia akan menghadapi takdirnya,” kata Imam saat meninggalkan Gedung Merah Putih KPK, Jumat (27/9/2019) petang.

Imam yakin penahanan itu merupakan rencana Tuhan yang tidak akan salah.

“Demi Allah, Allah itu maha baik dan takdir-Nya tak pernah salah. Karenanya, doakan saya mengikuti proses hukum yang sedang saya jalani ini,” ujar Imam.

Imam tak menjawab ketika awak media bertanya mengenai materi pemeriksaannya hari ini.

Diberitakan sebelumnya, KPK menahan Imam di Rutan Pomdam Naya Guntur untuk 20 hari ke depan terhitung mulai Jumat hari ini.

Imam ditahan setelah menjalani pemeriksaan hari ini. Pagi tadi, Imam tiba di Gedung Merah Putih KPM sekira pukul 10.06 WIB dan keluar sekira pukul 18.15 WIB. Pantauan Kompas.com, Imam keluar dari Gedung Merah Putih KPK dengan mengenakan rompi tahanan warna oranye dan tangan berbogol. Ia menutupi tangannya yang terborgol dengan map berwarna merah muda.

Sementara itu kuasa hukum mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Soesilo Aribowo, mempertanyakan keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi menahan kliennya per Jumat (27/9/2019) hari ini.

Soesilo berpendapat, Imam tidak mungkin kabur dan mengulangi perbuatannya sehingga ia menilai tidak ada urgensi bagi KPK untuk menahannya.

“Pak Imam Nahrawi sebetulnya kan sudah mengundurkan diri dari Menteri Olahraga tentunya kekhawatiran melarikan diri dan dia sekarang sudah tidak, disuruh, dicegah ke luar negeri, mengulangi perbuatan dan sebagainya saya kira tidak akan terjadi,” kata Soesilo di Gedung Merah Putih KPK, Jumat petang.

Namun demikian, Soesilo mengatakan bahwa pihaknya tetap menghormati keputusan KPK yang menahan Imam di Rutan Pomdam Jaya Guntut untuk 20 hari ke depan.

“Memang kita sayangkan penahanan tapi ini karena protap kita hormati juga dari KPK,” ujar Soesilo.

Diketahui sebelumnya Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memenuhi panggilan Komisi Pemeriksaan Korupsi untuk diperiksa sebagai tersangka kasus dana hibah Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018, Jumat (27/9/2019).

Imam tiba di Gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 10.06 WIB didampingi sejumlah orang. Imam yang datang mengenakan jaket merah bergambar burung garuda itu mengaku siap jalani pemeriksaan.

“Saya, Bismillahirahmanirahiim, siap menjalani takdir ini karena setiap manusia pasti menghadapi takdir,” kata Imam kepada wartawan, sesaat sebelum memasuki Gedung Merah Putih KPK.

Imam mengatakan, pemeriksaan hari ini merupakan takdir Tuhan dan ia meyakini takdir Tuhan tidak pernah salah.

“Demi Allah, demi Rasulullah, Allah itu maha baik, dan takdirnya enggak pernah salah,” ujar Imam.

Imam tak menjawab saat ditanya awak media terkait dugaan penerimaan uang senilai Rp 26,5 miliar terkait kasus tersebut.

SOURCE : Kompas.com/Medcom.id

Inilah Intruksi yang Diberikan Kadisdik Provinsi Kepada Kepala SMK dan SMA

Kapolri Copot Kapolda Riau-Sultra-Papua, Ada Apa?