in

Konsumsi Air Sungai Rawas, Warga Mengidap Penyakit Kulit

Diduga Akibat Aktivitas Galian C Ilegal

MURATARA, Silmed.id – Musim kemarau yang terjadi belakangan ini membuat aktifitas sebagian warga  dalam hal Mandi Cuci Kakus (MCK) tertuju ke sungai. Tak terkecuali warga yang tinggal berdekatan dengan Sungai Rawas. Hanya saja aktifitas MCK itu menimbulkan masalah baru yakni warga mengidap penyakit kulit. Seperti yang dikemukakan M Rasyid (43) warga Desa Lesung Batu kepada Silampari Media.

“Saat kemarau ini tidak bisa lagi mengandalkan air sumur atau ledeng. Jadi harus ke sungai. Namun permasalahannya, sudah mencuci atau mandi, banyak yang terkena penyakit gatal-gatal pada kulit,” ungkap M Rasyid, Jumat, (19/7/2019).

Ia menduga tercemarnya air Sungai Rawas ini akibat dari adanya aktifitas tambang Galian C di daerah hulu Sungai Rawas. Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah setempat agar dapat menemukan penyebab penyakit gatal kulit serta tidak memberikan izin aktifitas tambang di daerah hulu Sungai Rawas itu.

“Kalau kami selaku warga biasa ini hanya bisa berharap adanya kepedulian dan ketegasan dari pemerintah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Muratara, H. Devi Suhartoni sangat kecewa atas ulah warga yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak sekali kerusakan sungai dikarenakan keserakahan manusia sehingga air jadi keruh serta orang mandi menjadi gatal-gatal, akibat menggali Galian C tanpa izin di aliran Sungai Rawas-Rupit khususnya di wilayah Kecamatan Rawas Ulu,” papar Wabup.

Dilanjutkannya, jika tidak berizin maka dampak lingkungan hidup tanpa pengendalian akan berakibat fatal jangka panjang, bagi sungai tersebut bahkan bagi warga.

“Bagi yang berbisnis galian C silahkan saja. Namun harus fikir orang yang berada di hilir sungai. Kita tidak melarang tetapi jaga kepentingan bersama dan kenyamanan bersama serta tidak menimbulkan penyakit. Semua selalu ada jalan keluar dan harus saling fikir. Jangan demi keuntungan sendiri, orang lain jadi menderita. Misalkan dengan kerja malam dan tumpukan di pinggir sungai. Kemudian jam 5 pagi harus berhenti. Jadi air tetap jernih dan bisa dikonsumsi,” ujar wabup memberikan contoh solusi.

PENULIS : Hengki Pransis
EDITOR: Dodi Chandra

Penghuni Panti Jompo Jarang Mandi dan Susah BAB

Cegah Karhutla, Tim Penanganan Bentuk Lima Posko