in

Konsep Kepemimpinan Muda Untuk Pilkada Serentak 7 Kabupaten di Sumsel

KATEGORI: OPINI

Penulis: Bambang Irawan*

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, proses Pemilu April 2019 yang lalu di negara kita tentunya juga banyak menarik perhatian dari kacamata dunia internasional. Kita patut bersyukur dan berbangga di dalam prosesnya hingga kini penyelenggaraan Pemilu 2019 secara garis besar dapat dikatakan berjalan secara damai dan tertib, meskipun bukannya tanpa berbagai catatan merah.

Mulai dari polarisasi yang menajam di tengah sesama anak bangsa, berbagai kasus pelanggaran dan mengentalnya politik uang, hingga fakta mengejutkan tentang lebih dari 500 petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang meninggal dunia serta hampir 5000 petugas lainnya jatuh sakit, utamanya akibat kelelahan dan beban kerja yang terlalu berat.

Melalui tulisan pendek ini, marilah kita mengambil jeda sejenak dan melihat kembali Catatan 17 April 2019 yang lalu secara objektif hal-hal yang patut menjadi pertimbangan bersama dan memerlukan koreksi ke depannya agar mampu menghasilkan Pilkada Serentak yang lebih bermartabat dan mampu melahirkan pemimpin yang mampu menterjemahkan kebutuhan daerahnya masing-masing di era disrupsi dan pengaruh perkembangan teknologi pada zaman revolusi industri dunia keempat serta menangkap peluang dalam menjawab tantangan bonus demografi 2030 akan datang.

Banyak tantangan yang harus dihadapi dan diantisipasi, terutama soal isu revolusi industri 4.0 di banyak sektor. Tentu dengan syarat kepala daerah dan wakil kepala daerah Republik Indonesia menurut UU No 8 tahun 2015 sudah sangat lengkap menitipkan pesan penting bagi calon pemimpin daerah dan bangsa ini untuk menjadi pemimpin yang amanah dan harus mampu menjawab setiap tantangan zamannya.

Kepemimpinan daerah kedepan mesti mampu paham dan menterjemahkan isu revolusi industri 4.0. milennial leaders harus berkutat pada isu big data, smart city, virtual augmented reality, artificial intelligence, 3D printing, advance robotic, profesi baru (game developer, animator, videographer). Sedangkan dalam sektor bisnis isunya bagaimana mengintegrasikan bisnis ke dalam teknologi dan menjaga ritme kerja yang sekarang serba cepat.

Sebesar 49,52% pengguna internet Indonesia adalah milenial dengan rentang usia 18–34 tahun (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, APJII 2018) artinya perkembangan industri 4.0 dan hadirnya pemimpin muda berjalan beriringan dan tidak terpisahkan. Milenial saat ini peran kunci dalam perkembangan industri 4.0. Banyak kejutan yang telah dilakukan pemimpin muda di era 4.0 dalam berbagai bidang pekerjaan. Mereka bertumbuh dengan inovasi dan akan berkembang dengan jaringan relasi yang baik. Standar baru kepemimpinan milenial akan mulai diterapkan di berbagai bidang pekerjaan. Pemimpin 4.0 yang fokus pada pendekatan ‘people oriented’ dengan komunikasi dua arah (feedback), fleksibilitas, nilai dan etika.

Milenial yang berdaya, berkarya dan bermakna dengan karakter kebaruan yang sejalan dengan pesatnya teknologi. Kemampuan membangun dan menunjukkan jati diri melalui media sosial menjadi penting di era revolusi industri 4.0 ini. Selain mahir dalam penggunaan teknologi, pemimpin milenial 4.0 harus mengedepankan prinsip kerja dan nilai kerja sama, kolaborasi, fleksibilitas, kerendah-hatian (humility), keterbukaan, dan terbukanya kesempatan untuk belajar serta berkembang. Mereka terbuka terhadap kritik yang membangun dan kemajuan ‘improvement’, tanpa mempermasalahkan perbedaan dalam ‘tribe’ di tempat kerjanya.

Dewasa ini kepala daerah kita di sumsel baik tingkat kabupaten/kota bahkan provinsi hampir seperti anti terhadap kritik dari berbagai golongan apa lagi kritik yang keluar dari kaum muda. Dengan dalih mengatakan kaum muda belum paham dan memiliki pengalaman banyak mengenai dunia kepemerintahan. Sehingga kritik kaum muda acap kali dikesampingkan, tiba nanti saat gelombang kaum muda meledak menyuarakan masukan dan kritik terhadap pemerintah barulah terjadi “kekhawatiran” yang serius dari kepala daerah. Tentu kita sepakat seharusnya kepala daerah harus mampu melibatkan dan memperdayakan kekuatan dan keterampilan yang dimiliki kaum muda untuk bersama membangun daerahnya human sebaliknya menutup ruang bagi kaum muda untuk ikut berkontribusi dalam membangun daerahnya.

Kepala Daerah mesti ingat Kementerian Perindustrian RI pernah menyatakan bahwa pada 2030, Indonesia membutuhkan 17 juta high tech millennial atau anak muda dengan kemampuan teknologi supercanggih. Mereka ahli di bidang programming, web designing, technical network engineering, government digital service dan profesi masa depan lainnya.

Ketika semakin banyak talenta keren, disaat yang bersamaan tugas pemimpin 4.0 harus berperan sebagai human accelerator dan personal developer bagi sesama. Bentuk hierarki dan struktur organisasi akan bergeser lebih proaktif konstruktif. Melalui efisiensi, organisasi dengan sendirinya menyesuaikan lanskap, jenis pekerjaan dan juga kebiasaan kerja milenial. Pemimpin milenial membangun perusahaan dimulai dengan hal yang disukainya (passion) dan terdapat misi sosial (social purpose) dalam pekerjaannya.

Di Indonesia sendiri telah terjadi perubahan struktur kependudukan yang menciptakan ledakan usia produktif (15 tahun-64 tahun) yang separuhnya, pada puncak bonus demografi pada 2030 akan menciptakan sekitar 180 juta jiwa usia produktif. Karena, itu, dominasi Pemilu Presiden 2019 yang lalu, peran usia produktif khususnya kaum muda yang berusia 17 tahun sampai 35 tahun berkisar 100 juta jiwa dari sekitar 196 juta lebih pemilih. Inilah kesempatan besar para pemimpin bangsa untuk memanfaatkan daya ungkit kaum muda dalam kancah pemerintahan untuk menopang pembangunan daerah bahkan nasional.

Belajar dari Obama, berhasil berperan sebagai “pembisik milenial’’ (millennials whisperer) karena dinilai mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh generasi muda di AS, salah satunya perihal toleransi. Hal ini membawa Obama memenangkan suara 77% dari suara pemuda Amerika Serikat. Lain hal dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, yang menjadi idola milenial Kanada karena berhasil menginternalisasikan isu kesetaraan (equality) dan keberagaman (diversity) di kalangan anak-anak muda Kanada. Di Jerman, 2017 lalu Reuters menyatakan Kanselir Jerman Angela Merkel mendapat suara 47% dari pemilih pemula karena dianggap peduli pada isu kedamaian di wilayah Timur Tengah. Ketiga contoh kasus tersebut menyatakan bahwa kemampuan menjaga toleransi, menjaga kedamaian, dan memfasilitasi keberagaman sebagai kekuatan, dianggap sebagai karakteristik sosok pemimpin Muda atau milenial sukses di era R. 4.0

Standar kepemimpinan Muda atau Millenials di lintas lini telah berubah seiring dengan perkembangan industri 4.0. Salah satu kemampuan utama pemimpin 4.0 perlu memahami bagaimana cara bereaksi sangat cepat (super fast response) terhadap berbagai hal dalam ruang kendalinya. Dari komunikasi teks 24/7 hingga kemampuan komunikasi publik dalam ranah online ataupun offline.

Dalam tujuan, pemimpin 4.0 pun harus lebih berorientasi pada hasil (result-goal oriented), tidak selalu mengedepankan prosedur dalam pengambilan keputusan. Menjaga integritas menjadi kompetensi utama bagi pemimpin 4.0 karena segala sesuatu yang berkait dengan pekerjaan menjadi transparan. Leader 4.0 harus mendengar, melihat, merasakan dan turun ke medan pekerjaan agar dapat mengambil keputusan dan melihat masalah dengan sebaik-baiknya. Keputusan yang dibuat pun harus dilakukan secara cepat dan tepat.

Kemampuan mengembangkan bakat dan talenta juga merupakan tugas utama pemimpin 4.0. Pergerakan dan pergeseran terjadi kian cepat sehingga pribadi yang tidak agile dan mampu beradaptasi dengan cepat dari pemikiran konvensional akan sirna. Pemuda dengan sederet prestasi dan kompetensi perlu diarahkan agar dapat melalui proses regenerasi dengan baik. Milenial yang dikenal cepat bosan dan mudah berpindah ke lain hati dapat diantisipasi dengan adanya program pengembangan talenta yang sistemik dan menjanjikan. Dengan begini, loyalitas dan solidaritas tim akan meningkat.

Menerima perbedaan, terkoneksi sepanjang waktu dengan banyak pihak, mahir mengakomodasi perspektif, mengedepankan kolaborasi lintas lini, hingga meredam ego pekerja milenial yang saat ini mendominasi berbagai sektor lapangan pekerjaan. Belum lagi dengan hadirnya empat generasi dalam satu lingkungan kerja (boomers, x, millennials, z), pemimpin 4.0 harus adaptif menghadapi berbagai perbedaan dalam sistem operasional kerjanya. Perbedaan nilai, cara pandang, kesenjangan budaya dan cara komunikasi jangan dianggap sebagai suatu hambatan, namun dijadikan tantangan yang harus diatasi dengan elegan. Karenanya, pemimpin 4.0 harus menjalankan kepemimpinan yang mengedepankan pendekatan manusia, human-based approach. Sudah seharusnya pemimpin muda 4.0 mampu memanusiakan rekan kerja dengan empati dan mengedepankan budaya apresiatif dalam lingkungan kerjanya.

Melihat permasalahan bangsa kita yang kian kompleks dan menantang, sudah saatnya pemerintah daerah berkolaborasi dan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk duduk sebagai policy maker. Langkah strategis tersebut dengan membuka sebuah kesempatan ruang kerja yang dipercayakan kepada generasi muda. Paling tidak pemerintah daerah memberikan jabatan strategis di struktur pemerintahan daerah agar lebih memahami psikologi kaum muda yang kini sangat berbeda akibat gelombang inovasi teknologi. Cara berpikir dan budayanya tentu memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan figur dengan profil yang hidup di era yang sama, sehingga nantinya pemecahan dan pengelolaan permasalahan lebih selaras dan efektif

Hadirnya era 4.0 ini tidak hanya mengubah peta industri, namun juga pergeseran perspektif, profesi, cara komunikasi, pekerjaan, konsumsi, gaya hidup, dan bertransaksi. Pemimpin 4.0 dapat juga dikatakan sebagai digital leaders (pemimpin digital). Salah satu ciri pemimpin digital ialah gaya pengambilan keputusan yang berdasarkan data, transparan dan realtime. Lebih sederhana, tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Pemuda yang paling siap dan mampu memantaskan diri dengan percepatan dan perkembangan zamanlah yang akan bertahan. Apalagi tantangan lebih berat di masa depan.

Gaya kepemimpinan dan komunikasi sebenarnya dua kata kuncinya: partisipatif dan kolaboratif. Dua hal ini nantinya yang akan memenuhi ruang manajemen organisasi dan kepemimpinan 4.0 . Dalam era yang serbacepat ini, pasti banyak masalah yang muncul sebelum kita menyelesaikan masalah lain sehingga menjadi kompleks. Karenanya, pemimpin 4.0 tidak bisa sendiri dan membutuhkan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Pemimpin milenial perlu lebih banyak mengasah serta mempertajam kemampuan dalam hal mereduksi birokrasi, mengelola keberagaman, komunikasi dua arah, dan memfasilitasi kolaborasi antarpihak.

Kemampuan yang dibutuhkan seorang pemimpin 4.0 akan tetap sama, tetapi akan ada perbedaan soal hard skill. Utamanya mereka harus mengerti soal big data, konsekuensi dari virus, cloud, pembuatan aplikasi, dan sebagainya. Mengapa kolaborasi menjadi demikian penting di era 4.0 ini? Karena tidak ada pemimpin yang sempurna. Ada yang paham soal konsep, namun tidak ahli dalam kajian teknis dan operasional. Hal tersebut lumrah, karenanya pemimpin 4.0 bisa mempercayakan dan mendelegasikan hal tersebut kepada anggota tim yang lebih ahli di bidang itu. Memberdayakan anggota tim akan menjadi faktor yang signifikan dalam kesuksesan kepemimpinan 4.0. Tugas pemuda harus peduli mendukung peran pemerintah daerah di era digitalitasi dan otomasi ini. Sebagai pengawal generasi untuk mempersiapkan generasi terbaik yang mengangkat derajat Ibu Pertiwi lebih tinggi lagi. Bukankah Bung Karno pernah berpesan, beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia?

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Unsri & Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel 2018-2020.

Kantor Bupati Didemo, Minta 363 Tender Proyek Diaudit

Sempat Lakukan Perlawanan, Bandit Curanmor Dipelor