ilustrasi
in

Kalau Sistem Tidak Diubah, Bulog Akan Bangkrut

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Semenjak beras sejahtera (rastra) telah diganti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diambil alih Kementerian Sosial, Bulog kini menjual beras tanpa subsidi alias komersil.

Kepala Bulog Lubuklinggau, Faisal Fahmi didampingi Petugas Operasional dan Pelayanan Publik (OPP), Robby Pujangga membenarkan hal tersebut, bahkan mereka menyebutkan untuk menjual beras komersil bukanlah hal yang mudah.

“Pasti ada hambatan tentu, karena kami harus bersaing dengan para distributor yang sudah hidup bertahun-tahun,” kata Faisal kepada Silampari Media, Kamis (26/9/2019).

Selain hal tersebut, hambatan yang lain dirinya menuturkan bahwa menawarkan beras Bulog terkadang membuat masyarakat takut.

“Tentu karena selama ini citra Bulog di masyarakat adalah beras subsidi. Kalau dulu menjual beras bulog pasti akan berhadapan dengan hukum. Sedangkan sekarang tidak, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Bulog tidak lagi memiliki rastra. Artinya murni komersil,” lanjut dia.

Ini tantangan sendiri menurutnya, karena apalagi mulai September ini tidak ada lagi beras Rastra baik di Kota Lubuklinggau, Musi Rawas dan Musi Rawas Utara.

“Kalau dulu sumber pendanaan kita dari penyaluran rastra. Kalau sekarang tidak. Makanya kami pejabat Bulog kalau pagi tidak ada di kantor, tetapi ke pasar-pasar berfikir bagaimana caranya beras atau produk kami bisa tersalurkan,” jelas dia.

Makanya itu, dirinya juga menyayangkan terhadap sikap pemerintah yang menghapuskan rastra. Seolah-olah melemahkan terhadap bulog Indonesia.

“Bahkan pak Budi Waseso (Dirut Bulog) sendiri mengatakan seperti itu. Ini seperti upaya pelemahan terhadap bulog. Bahkan dalam sehari Rp 14-16 Miliyar bunga operasional harus dibayarkan. Tetapi kalau caranya seperti itu akan berat,” ungkap dia.

Untuk itu, menurut dia bukan tidak mungkin jika tahun depan dengan sistem tersebut tidak dirubah, Bulog akan bangkrut.

“Beras kami bulog itu tidak menggunakan formalin. Ada yang medium dan ada juga yang premium. Untuk kelas medium ada ketahanan teksturnya tidak bisa sampai bertahun-tahun. Nah ini, jika dalam setahun nanti tidak disalurkan, pasti akan berkutu dan rusak. Kalau dibiarkan keadaan seperti itu, bulog bisa saja bangkrut,” keluhnya.

Namun walaupun seperti itu, ia sangat menjamin bahwa beras ataupun produk dari bulog memiliki kualitas yang baik.

“Kita punya beras premium yang saat ini masih dijajaki ke konsumen sekitar Rp 11.500-Rp 12.000 itu tidak perlu dicuci didalamnya juga ada kandungan vitamin. Kalau beras medium kisaran harga Rp 9.000 sampai Rp 9.500 dengan kualitas yang baik,” tutur dia.

Makanya dalam upaya tersebut, pejabat yang ada di Bulog termasuk dirinya terus berusaha dan bekerja keras untuk dapat menjual produk mereka seperti beras, sosis, daging dan bakso agar bisa memiliki pendanaan secara mandiri.

PENULIS : Joefan Saputra
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

117 Pelajar SMA Ikuti LKS Angkatan Ke-III

Kadis Kominfo Jelaskan Program Sipokat Kepada Sekwan Provinsi Bengkulu