MAMPU – Harga karet rendah, masyarakat khawatir tidak mampu menyekolahi anaknya.
in

Harga Karet Rendah, Masyarakat Mengeluh Membeli Bahan Sembako Terasa Berat

Masyarakat Kota Lubuklinggau mengeluhkan harga sembako yang tinggi. Kondisi ini tentunya membuat perekonomian warga Lubuklinggau semakin berat. Kenapa?

Laporan : Marradona Jofan Saputra.

Kenaikan harga Sembako biasanya selalu dikaitkan dengan naiknya harga BBM, namun kenyataannya harga BBM saat ini stabil, sedangkan harga sembako naik turun.

Menurut penuturan warga Kelurahan Jukung Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Yansi (39) saat saya datangi mengatakan harga karet semakin terpuruk. Tidak seimbang dengan harga sembako yang membuat masyarakat semakin kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Warga berharap pemerintah melalui instansi terkait harus melakukan operasi pasar, bila harga barang pokok terus naik seperti selama ini, maka masyarakat akan semakin menderita dan sengsara,” katanya Minggu (3/11/2019).

Kondisi ekonomi saat ini diakuinya semakin menyulitkan masyarakat. Harga karet yang tidak mengalami kenaikan, sedangkan harga sawit turun naik namun kebutuhan dasar masyarakat, yakni sembako harganya terus naik. Untuk mengharap bekerja dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, dirasakan mereka masih sangat sulit.

“Ada kesempatan, tapi waktu bekerja yang diberikan pihak perusahaan sedikit. Dalam satu bulan para Buruh Harian Lepas (BHL) paling banyak hanya satu minggu, bahkan tidak sampai. Untuk karyawan saja, dalam satu bulan kerja dibatasi paling banyak masuk kerja 20 hari, dengan penghasilan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat yang kerjanya seorang petani yang tidak kenal waktu kapan waktu kerja kecuali hujan, seorang petani saja yang kerja tiap hari penghasilan yang selalu tidak cukup, apalagi seorang Buruh Harian Lepas (BHL),” jelasnya.

Suraidah, warga setempat juga mengatakan hal yang sama, naiknya harga sembako akan menambah penderitaan bagi rakyat karena pendapatan yang masuk saat ini tidak sesuai dengan pengeluaran yang ada.

“Kami sangat berharap kepada pemerintah untuk memperjuangkan ekonomi rakyat. Mereka harus betul-betul melihat ke bawah, bagaimana keadaan dan kondisi masyarakat saat ini,” tuturnya.

Apalagi harga karet yang sangat rendah, ia khawatir tidak dapat melanjutkan sekolah anaknya.

“Harga karet sekarangkan kadang Rp 7.000-8.000. Cari kerjaan lain susah, mengandalkan hasil dari karet saja takut tidak mencukupi. Aku takut anak nih tidak bisa sekolah lagi,” keluhnya.

Untuk itu, Wanita ini berharap, Pemerintah juga dapat membuka kesempatan pekerjaan bagi dirinya yang hanya lulusan Sekolah Dasar tersebut.

“Terkadang mau nangis kenapa tidak sekolah tinggi, cuma tamatan SD nih susah dapat pekerjaan. Kami cuma berharap mungkin saja pemerintah mau memikirkan nasib kami yang cuma lulusan SD ini,” harapnya diakhir pembicaraan.

EDITOR : Aulia Azan Siddiq

BMI dan Warga Gotong Royong “Gusur” Sampah di Bandung Ujung

Bupati Resmikan Pos Polisi Desa Bumi Makmur