TINJAU : Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Lubuklinggau, Emra Endi Kusuma (baju batik) saat meninjau UKM milik Eriyanto (Baju Hitam) di kediamannya, Jalan BBGRM RT 02 Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Jumat (9/8/2019). Foto : Bayu Silmed
in

Diskop UKM Kunjungi UKM Eriyanto, Produsen Ikan Salai dengan Tekhnologi Tepat Guna

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Pemerintah Kota Lubuklinggau melalui Dinas Koperasi dan UKM Kota Lubuklinggau menanggapi serius penggunaan tekhnologi tepat guna yang diterapkan oleh Eriyanto (38) warga RT 02 Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I dalam membuat ikan salai aneka rasa.

Kepala Diskop UKM, Emra Endi Kusuma Jum’at (9/8/2019) mengunjungi langsung tempat produksi Ikan salai Aneka Rasa milik Eriyanto yang terletak di Jalan BBGRM RT 02 Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Kunjungan Emra untuk memastikan bahwa UKM milik Eriyanto layak untuk menjadi produk unggulan UKM Kota Lubuklinggau.

“Kunjungan kemarin untuk memastikan bahwa UKM beliau terdaftar di Diskop UKM serta layak atau tidaknya menjadi produk unggulan Kota Lubuklinggau, dan dengan tekhnologi tepat guna yang diterapkan serta hasil produksi yang baik usaha beliau layak untuk menjadi produk unggulan di Kota Lubuklinggau. Dan ke depannya akan sama-sama kita perjuangkan untuk mendapatkan suntikan dana dari pemerintah untuk pengembangan UKM,” ujar Emra kepada Silampari Media, Minggu (11/8/2019).

Sementara itu Eriyanto menuturkan jika ide ikan salai miliknya berawal dari bekal pengetahuannya yang didapat selama menimba ilmu di Jurusan Teknik Kimia IST Akprind, Yogyakarta. Pada akhir tahun 2015 lalu, Eriyanto mencoba membuat alat pengolahan ikan salai. Di kediamannya ia merakit alat pembuat ikan salai berbentuk kontainer dengan ukuran lebar 1,2 meter, tinggi 1,8 meter dan panjang sekitar 4 meter. Alat yang dibuatnya ini memiliki kapasitas 300 kilogram ikan. Setelah proses pembuatan selesai, alat yang dirakitnya lalu langsung diujicobakan untuk menyalai ikan.

“Alhamdulillah, dari uji coba yang kami lakukan, hasilnya cukup memuaskan. Ikan salai yang diproduksi menggunakan alat ini hasilnya sama dengan ikan salai yang dibuat secara tradisional,” kata Eriyanto, saat ditemui dikediamannya.

Cara kerja alat buatannya ini sama dengan proses pembuatan ikan salai secara tradisional, yaitu dengan metode pengasapan. Hanya bedanya ikan salai buatannya menggunakan alat dan teknologi khusus hasil ciptaannya.

Proses pengolahan ikan salai dengan mesin buatannya juga relatif sama dengan proses pengolahan ikan salai secara tradisional. Pertama, ikan dibersihkan, lalu disusun dalam wadah yang dibuat sedemikian rupa. Wadah ini menyatu dengan alat, namun dapat dicabut atau dilepas untuk memudahkan menyusun ikan diluar alat pembuat ikan salai.

Setelah ikan tersusun rapi dalam wadahnya, kemudian dimasukkan kembali ke dalam alat pembuat ikan salai dan ditutup rapat. Jika pengolahan ikan salai dengan cara tradisional memakan waktu agak lama, yakni bisa tiga atau empat hari untuk menghasilkan salai yang benar-benar kering, maka dengan menggunakan alat buatannya, waktu pembuatan lebih singkat. Untuk ikan jenis nila misalnya, hanya membutuhkan waktu sekitar enam jam. Sedangkan jenis ikan patin, baung dan sejenisnya, memakan waktu lebih panjang yaitu sekitar 10-12 jam.

“Seluruh jenis ikan dapat dibuat salai dengan alat ini. Hanya saja untuk ikan yang kulitnya licin seperti patin, baung dan sejenisnya waktunya agak lebih lama dibandingkan dengan ikan bersisik seperti ikan nila. Kalau ikan patin waktu pengolahan sampai jadi sekitar 12 jam, sedangkan ikan nila memakan waktu sekitar 6 jam sudah jadi salai,” papar Eriyanto.

Setelah ikan sudah jadi salai, kemudian dilakukan proses pendinginan dengan menggunakan alat lain yang terpisah, yang dibuat teknologi khusus untuk proses pendinginan. Waktu pendinginan ikan salai ini sekitar 5 jam. Setelah itu langsung dipacking menggunakan vacum sealer dan siap untuk dipasarkan.

“Setelah dikemas, ikan salai ini bisa tahan selama enam bulan, bahkan kalau vacumnya tidak terbuka, bisa tahan hingga satu tahun,” ujarnya.

Produk Eriyanyo sendiri telah beberapa kali mengikuti ajang pameran UKM dan menjadi pusat perhatian, Eriyanto berharap dengan kunjungan Dinas Koperasi dan UKM itu akan membawa perkembangan yang positif bagi usahanya.

“Tidak bisa dipungkiri peran pemerintah sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha kecil menengah seperti kami ini, untuk itu kedatangan pihak Diskop UKM sangat membuat kami bahagia, minimal akan ada perhatian dari mereka untuk kami,” tutup Eriyanto.

PENULIS : Bayu Pratama Sembiring
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Air Terjun Ulu Tiku yang Masih Alami

O2SN Tingkat Provinsi , SMPN 1 Lubuklinggau Sumbang Medali Emas dan Tiga Perunggu