in

Disbudpar Himpun Adat Istiadat dan Budaya

MUSIRAWAS,Silmed.id – Supaya tidak hilang dan bisa dinikmati generasi berikutnya, Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Musi Rawas saat ini tengah mengumpulkan info sekaligus mendata mengenai adat istiadat yang ada di wilayah Kabupaten Mura.

Kasi Pelestarian dan Pengembangan Budaya Disbudpar Musi Rawas, Emiliana mengatakan dalam pengumpulan data tersebut pihaknya berkoordinasi dengan lembaga adat desa, Kelurahan dan penasehat ada yang ada di masing-masing Kecamatan.

“Jadi setelah dikumpulkan dan digali, akan dilestarikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah informasi dan data didapat, pihaknya akan melakukan monitoring langsung ke lokasi. Dan sejauh ini, data yang masuk sementara kepihaknya baru empat adat istiadat seperti adat Perkawinan, prosesi Mandi Kasai, Grebek Suro dan Larung.

“Sedekah bumi, Mandi Kasai ini mulai kita gali dan hingga saat ini masih dipakai di beberapa desa yang ada di Kecamatan TPK (Tiang Pumpung Kepungut),” katanya.

Selain itu, adat istiadat Grebek Suro di beberapa Kecamatan Kabupaten Mura masih banyak dipakai. Namun untuk saat ini yang baru terangkat yakni di Desa Srimulyo (STL Ulu Terawas). Dimana Grebek Suro merupakan adat istiadat atau tradisi yang dilakukan warga sekitar dengan membawa hasil bumi dengan tujuan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Kemudian, di kecamatan Sukakarya terdapat adat istiadat berupa tradisi Larung. Tradisi ini bertujuan untuk tolak balak atau rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh.

“Kami sudah datang kedaerah itu dan minta agar dilestarikan,” ungkapnya.

Kata Emiliana, masih banyak lagi adat istiadat yang dimiliki Kabupaten Mura dan hingga saat ini tradisi itu masih dilakukan sejumlah masyarakat dibeberapa tempat. Diantaranya adat seserahan di STL Ulu Terawas, potong kambing di F Surodadi (Tugumulyo) dan sedekah bumi.

“Sekarang budaya kita sudah luntur. Dan sekarang kita budayakan lagi ada senjang, adat perkawinan dan berejung,” bebernya.

Sejumlah faktor yang menyebabkan adat istiadat tersebut ditinggalkan. Yakni masyarakat menganggap bahwa tradisi itu sudah kuno, lalu menganggapnya cukup ribet dan faktor lainnya adalah biaya.

PENULIS : Dedi Ariyanto

Hasil Lelang Jabatan Segera Diumumkan

Mengetahui Rumahnya Ludes Terbakar, Rina Langsung Pingsan. Berikut Kronologisnya