in ,

Belalau, Talang Ponorogo, Sumber Agung dan Patok Besi

#Patok Besi Dalam Cerita (Bag. I)

Bagi anda yang berdomisili di sekitar Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Muratara, apa yang terlintas di pikiran anda jika mendengar kata “Patok Besi”. Ya… bagi sebagian orang, kata itu akan membawa alam pikirannya menuju suatu tempat atau komplek lokalisasi yang berada di RT.07, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau. Namun sebenarnya Patok Besi itu ‘nama’ untuk sebuah kampung lho bukan sebutan untuk lokalisasi. Bagaimana sejarahnya? Simak laporannya.   

PENULIS: BAYU PRATAMA SEMBIRING
EDITOR: DODI CHANDRA

Jum’at (2/8/2019) pagi,  deru motor saya matikan tepat di atas atap rumah salah satu sesepuh Kelurahan Sumber Agung yang kini juga menjabat selaku pemangku adat kelurahan. Di atas atap? Ya bisa dibilang begitu, karena kediaman beliau menjorok ke bawah hingga atapnya sejajar dengan jalan, bahkan saya sempat ragu untuk turun karena jalannya yang miring, ya kira-kira kemiringannya 20 derajat sampai menuju teras rumahnya.

Rumah ini tidak terlalu besar, namun panjang, dengan ornamen khas rumah jadul yang nampak memenuhi ruangan tamunya. Lantai yang tak berkeramik dan atap yang tak berpelafon menambah antik rumah yang berdiri sejak 1975 itu, ya walaupun beberapa bagian sudah tampak modern.

Saya disambut senyum hangat beliau dan langsung menerima saya untuk sekedar bertukar senyum dan sapa. Tanaman Obat Keluarga (Toga) di depan rumahnya seolah ikut girang dengan berbalasnya senyum saya.

Arep neng ndi? Neng njero opo neng teras wae? (Mau dimana? di dalam atau di teras saja?)” Sapanya.

Saya pun mengangguk untuk setuju duduk di teras agar sekaligus bisa melihat pemandangan dari bawah jalan yang biasa orang lalu lalang.

Berkesempatan berbincang dengan Ersak Dianto, salah satu pemangku adat Kelurahan Sumber Agung   ini cukup asik. Setelah sejenak berbasa basi, saya pun mulai menyampaikan perbincangan seputar sejarah penamaan Patok Besi bagi Kelurahan Sumber Agung. Bagaimana bisa Patok Besi justru menjadi “Brand” bagi lokalisasi yang dibuka sejak Desember 1985 itu.

Duduk santai di teras rumah pemangku adat dengan ditemani secangkir kopi hangat dan ubi rebus, pagi itu, terasa sangat akrab. Ersak memulai ceritanya.

“Patok Besi ini awalnya merupakan sebutan bagi daerah Kelurahan Sumber Agung untuk memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi. Karena dahulu kami masih bergabung dengan Desa Belalau (sekarang Kelurahan Belalau I) dan masih menjadi bagian Kecamatan Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Tepatnya sekitar tahun 1957,” ungkap Ersak.

Ersak menjelaskan, menurut penelusuran sejarah yang ia lakukan awal mula Desa Sumber Agung terbentuk karena adanya transmigrasi besar-besaran dari Pulau Jawa yang menyasar Sumatera. Pada tahun 1950-an para transmigran tiba di Desa Belalau, namun keadaannya masih berbentuk hutan dan belum ada perkampungan yang layak. Para transmigran akhirnya membuat perkampungan kecil di daerah yang saat ini disebut Kelurahan Belalau II.

“Saat itu masih hutan karena daerah dikuasai oleh perkebunan PT. Cikencreng. Sekitar tahun 1960-an tengah sampai akhir orang-orang transmigran telah melebarkan wilayah mereka, dan untuk membedakan penduduk asli dan transmigran, karena para transmigran itu asalnya dari Kabupaten Ponorogo akhirnya dibuatlah nama wilayah mereka Talang Ponorogo,” sambung Ersak.

Saya semakin khusyuk mendengarkan cerita.

Sekitar tahun 1970-an awal, tersiar kabar akan dibukanya perkampungan baru di wilayah yang saat ini bernama Kelurahan Sumber Agung. Akhirnya para transmigran memutuskan untuk ikut mengembangkan perkampungan baru tersebut. Karena pesat pembangunannya akhirnya pihak PT. Cikencreng datang ke perkampungan tersebut untuk menegaskan batas wilayah perkebunan mereka dengan mengganti patok lama dengan patok yang baru yang terbuat dari besi dan di cor beton.

“Harapan PT. agar warga jangan membangun melebihi batas itu, namun perkebunan sudah ditinggal lama oleh pihak PT. Dan perkembangan daerah tidak terbendung akhirnya meluas dan terbentuk perkampungan yang guyub. Saat itu karena perkampungan itu belum ada namanya maka penduduk sekitar menyebutnya dengan daerah Patok Besi (daerah yang ada batas patok dari pihak PT)” sambung Ersak.

Bersamaan dengan itu Jalan Lintas Sumatera mulai dibangun dan melewati Patok Besi pada tahun 1970. Sehingga mau tidak mau perkampungan harus memiliki nama. Dan pada tahun 1982 diresmikanlah nama Desa Sumber Agung menjadi nama resmi dari daerah yang sebelumnya dikenal dengan Patok Besi.

“Nah pada tahun 1985 lokalisasi yang awalnya berada di daerah Talang Ban – Mesat. Lokalisasi ini dipindahkan ke desa kami karena lokalisasi Mesat berada di tengah kota waktu itu. Sehingga dibuatlah keputusan memindahkan lokalisasi ke tempat yang belum ramai yaitu salah satu sudut di desa kami,  Desa Sumber Agung,” sambung Ersak, yang berambut gondrong itu.

Lokalisasi adalah melokalisir suatu kegiatan atau mengumpulkan suatu aktivitas di suatu tempat yang di dalamnya sering terjadi pelanggaran terhadap norma-norma sosial yand dianut masyarakat. Ada juga yang menyebutkan pengertian Lokalisasi adalah sebentuk usaha mengumpulkan segalam macam aktivitas/kegiatan pelacuran dalam satu wadah dan kemudian menjadi kebijakan melokalisasi pelacuran. Singkatnya,   Lokalisasi adalah istilah yang berkonotasi sebagai tempat penampungan wanita penghibur dan Wanita Tuna Susila (WTS).

Prostitusi adalah bisnis tertua di sejarah dunia, sehingga bukan lagi fenomena yang asing di mata dan telinga kita, dari bentuk yang legal hingga ilegal. Seiring perkembangan jaman dan dampak dari perkembangan penduduk yang cepat, lokalisasi yang dulu dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisasi dampak buruk yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut telah bergeser.

Didalam masyarakat ada dua sisi pendapat yang bertentangan, disatu sisi prilaku protitusi melanggar nilai nilai norma moral atau perbuatan tercela disalah satu sisi perbuatan ini ditolerir karena alasan klasik demi nilai ekonomi, yaitu terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga. Disamping itu dilatari oleh kemiskinan yang sering dihubungkan dengan kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup.

PATOK BESI: Pemangku Adat Kelurahan Sumber Agung, Ersak Dianto (kanan) bersama dengan Tokoh Masyarakat Kelurahan Sumber Agung, Paino (kiri) saat menunjukkan Patok Besi yang menjadi asal usul nama Patok Besi, Jum’at (02/08/2019). Foto: Bayu_Silmed

Saya kemudian diajak melihat fisik Patok Besi yang dimaksud, Patok Besi fisik itu masih kokoh berdiri meski telah bersatu dengan pagar salah satu warga. Ya, Patok Besi itu merupakan prasasti kebangkitan Desa (yang kini kelurahan) Sumber Agung.

‘Patok Besi’ ….

Bagian dari sejarah  warga Sumber Agung dan mempunyai cerita tersendiri. Bagaimana dengan Anda? adakah cerita tentang Patok Besi? Mari berbagi cerita?

Bupati Buka Turnamen Futsal Bupati Cup U-21

Lengkap… Tonton Video Temuan Ganja di Karang Jaya – Muratara