in

95,5 Hektar Lahan Terbakar, Tiga Warga Hanyut

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Memasuki penghujung 2019, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Lubuklinggau merilis kasus yang pernah terjadi pada awal Januari hingga saat ini.

Hasilnya, terdapat 36 kasus kebakaran yang terjadi di pemukiman warga dan 106 titik api pada kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan orang hanyut terjadi 3 kasus.

Dari data yang ada memang terlihat jika angka tertinggi kebakaran baik pemukiman maupun karhutla terjadi rentang waktu antara Agustus hingga Oktober. Hal ini disebabkan saat itu sedang puncaknya musim kemarau.

Hal ini pun dibenarkan oleh Kasi Ops Damkar dan PB, Mahali didampingi Admin Damkar dan PB, Riko saat ditemui pada Rabu (4/11) pukul 12.00 WIB.

Ia menjelaskan jika saat itu memang cuaca sangat panas karena kemarau yang panjang. Hal ini membuat banyak lahan yang mudah terbakar.

“Kalau jumlah lahan terbakar pada 2019 sekitar 95,5 Ha. Penyebab rata-rata sebagian lahan dibuka dengan dibakar. Tapi ada juga sebagian akibat cuaca panas karena musim kemarau saat itu,” ungkapnya.

Sedangkan jika untuk pemukiman, hal ini disebabkan menurutnya karena sering terjadi konsleting listrik.

“Kalau pemukiman bisa karena berlebihan beban listrik makanya konslet. Selain itu, banyak warga yang kurang paham masalah instalasi listrik, stop kontak yang masih semerawut. Seharusnya dari PLN ada memberikan himbauan juga kepada masyarakat, jika alat elektronik yang tidak terpakai seperti kipas, ac untuk dicabut dan dimatikan. Karena kalau tidak dicabut itu masih ada arus listrik sehingga bisa menyebabkan kebakaran,” jelasnya.

Didalam menjalankan tugas hingga saat ini, ia menegaskan belum terrjadi hambatan yang berarti. Baik itu dari segi sarana maupun prasarana.

“Tidak ada kendala, wilayah kita armada sudah cukup. Mobil damkar semuanya ada 7, 2 di kantor Dinas utama, sedangkan yang kain tersebar disetiap kecamatan. Termasuk anggota personil seluruhnya berjumlah 176 orang,” tuturnya.

Hanya kendala sedikit, menurutnya bukan terkait upaya pemadaman kebakaran tetapi masalah tekhnis yang lain, seperti membuang bangkai kucing.

“Masyarakat inikan sekarang jika ada bangkai kucing atau sarang tawon itu mereka minta bantu kepada petugas kami. Masalahnya seperti membuang sarang tawon, kami tidak mempunyai anggota yang spesialisasi kesana. Peralatan juga seadanya saja kadang kami bingung, sedangkan warga mintanya cepat,” keluhnya.

Tapi pihaknya mengaku tetap selalu berusaha melakukan hal yang terbaik untuk mengabdi kepada masyarakat.

PENULIS : Jofan Saputra
EDITOR   : Dedi Ariyanto

Tiket Kereta Api Libur Natal 75 Persen Sudah Terjual

Klaim di PT Taspen Bisa Cair Satu Jam