in

490 Istri Menggugat Cerai Suaminya di PA Lubuklinggau, Ini Alasannya

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Pengadilan Agama Kota Lubuklinggau merilis kasus sengketa yang ditangani pihaknya per Semester awal tahun 2019. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pengadilan Agama Lubuklinggau, Muchlis, melalui Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Lubuklinggau, Rosmala Daya Hanan.

Rosmala menjelaskan jika sampai tiga Juli 2019 pihaknya telah dan sedang menangani sengketa sebanyak 868 perkara dari tiga kabupaten/kota (Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musirawas Utara).

“868 perkara tersebut 111 nya merupakan perkara dari tahun 2018 yang belum diputus, ditambah 758 perkara yang masuk ke pengadilan agama sejak satu Januari 2019 sampai hari ini. Dari 868 perkara, 681 perkara telah diputus dan telah berkekuatan hukum tetap, sementara 187 perkara masih dalam tahap persidangan,” ujar Rosmala saat di wawancarai Silampari Media, Rabu (3/7/2019).

Dari banyaknya perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama Lubuklinggau, kasus perceraian adalah yang terbanyak. Dan Cerai Gugat adalah perkara terbanyak yang ditangani oleh pengadilan agama.

Pada Januari 2019, dari 205 perkara yang diregistrasi pada bulan ini, ada 129 perkara cerai gugat, 46 perkara cerai talak, dan sisanya merupakan perkara lainnya. Cerai gugat berada di angka tiga kali lipat daripada cerai talak.

Sementara jika diglobal dari awal Bulan Januari hingga akhir Bulan Juni 2019, ada sekitar 490 perkara cerai gugat, 126 cerai talak, 70 Perkara Dispensasi Kawin, 17 perkara isbat nikah, 4 perkara ahli waris, dan dua perkara wali adhol.

Rosmala pun menjelaskan alasan banyaknya gugatan perceraian pada tahun ini.

“Yang paling banyak menyebabkan gugatan perceraian itu karena adanya perselisihan terus menerus. Dalam keluarga tersebut tidak ada lagi keharmonisan, setiap hal dapat menjadi sumber keributan hingga tidak ada lagi kedamaian di keluarga tersebut, mungkin karena mental yang belum siap berumahtangga atau karena ketidakdewasaan suami dan istri,” ujar wanita bergelar Dra. Ini.

Dijelaskan oleh Rosmala jika perselisihan terus menerus menjadi faktor dominan dalam perceraian.

“Seperti kita ambil sampel bulan Juni, ada 76 kasus perceraian dan 59 perkara penyebabnya adalah perselisihan terus menerus di dalam rumah tangga, selain itu lima perkara ditinggal nafkah, empat perkara masalah ekonomi, dan dua perkara masing-masing untuk Poligami dan KDRT,” tambahnya mencontohkan.

Dalam tahun ini pihak Pengadilan Agama Lubuklinggau menyelenggarakan persidangan di tiga tempat, yaitu di pengadilan Agama Lubuklinggau, KUA Muara Kelingi, dan Kantor Camat Muara Rupit. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang kurang mampu untuk melakukan perjalanan jauh.

“Kami berharap agar ke depan masyarakat harus bersikap dewasa dalam berumah tangga, pikirkan matang-matang sebelum menikah, jangan sampai ketidaksiapan mental justru akan berakhir di meja hijau pengadilan, kita semua tidak mau itu,” harap Rosmala mengakhiri wawancara bersama Silampari Media.

PENULIS : Bayu Pratama Sembiring
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

7005 KPM Segera Terima Bantuan PKH Triwulan III

67 Desa Berstatus Tertinggal