Penghuni Lokalisasi Patok Besi sedang melakukan rapat di balai RT terkait isu penutupan Lokalisasi yang baru-baru ini digaungkan kembali, Kamis (18/07/2019). Foto : Bayu Silmed
in

Isu Penutupan, “Penghuni” Lokalisasi Patok Besi Ingin Beraudiensi Dengan Walikota

LUBUKLINGGAU, Silmed.id – Lokalisasi Patok Besi yang terletak di RT.07, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I nampaknya masih terus menjadi pro kontra. Terbaru statement Walikota Lubuklinggau beberapa waktu yang lalu di salah satu media cetak lokal akan mengkaji terkait penutupan Lokalisasi.
Menanggapi hal tersebut, “Penghuni” lokalisasi menggelar rapat internal yang dihadiri semua pengusaha dan masyarakat yang berdomisili di lokalisasi, Kamis, 18 Juli 2019 lalu.
Fran Sembiring selaku Ketua RT 07 Kelurahan Sumber Agung memaparkan jika saat ini penghuni Lokalisasi Patok Besi menginginkan untuk beraudiensi bersama Walikota Lubuklinggau.
“Hasil rapat kami memutuskan jika ingin beraudiensi dengan pak wali. Sejauh ini kan Walikota belum sama sekali sidak ke Lokalisasi sehingga tidak tahu keadaan Lokalisasi yang sebenarnya. Sehingga ketika sudah duduk bareng kami akan benar-benar tahu keinginan pak wali itu seperti apa dan keadaan di sini seperti apa. Biar jelas tidak was-was,” ujar Fran kepada Silampari Media, Jum’at (26/07/2019)
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini pihaknya selaku pemerintah setempat telah melakukan berbagai upaya untuk mendidik moral penghuni lokalisasi agar bisa lebih baik.
“Karena kita semua sebenarnya punya kewajiban untuk membawa mereka ke arah yang sesuai tuntunan agama, dan tidak bisa serta merta dengan penutupan akhlak mereka akan menjadi baik, malah ada kemungkinan mereka akan menjadi PSK ilegal. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan pihak Kemenag untuk memberikan dakwah rutin bagi para pekerja agar mental dsn spiritual mereka sedikit demi sedikit diperbaiki,” sambungnya.
Ia juga menerangkan sudah beberapa kali mengusulkan kepada pihak kelurahan maupun dinas terkait agar memberikan pelatihan kerja bagi para tuna susila namun tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan.
“Ketika mereka sudah punya skill lain untuk membiayai hidup mereka, baru kita lepas mereka. Saat ini kami sedang menjajaki kerjasama dengan Daarut Tauhid untuk melakukan pelatihan kerja sembari menunggu tanggapan pemerintah,” ujar pria asal Medan itu.
Sementara itu Ersak Dianto (64) selaku Pemangku Adat Kelurahan Sumber Agung berpendapat bahwa harus ada pengkajian mendalam terkait penutupan Lokalisasi. Jangan sampai harapan menutup maksiat justru malah membuka jalan maksiat yang lain.
“Harus benar-benar teliti dalam prngkajian. Jangan sampai secara formal ditutup namun malah para pekerjanya pindah tempat. Malah jadi ngekos di dekat rumah-rumah warga dan berpindah ke tempat-tempat yang lebih mudah mendapatkan pelanggan. Kami ingin Sumber Agung ini bersih dari maksiat, namun kami tidak ingin daerah lain mendapatkan nasib yang sama dengan kami. Harus benar-benar dikaji secara serius,” ujar Irsak.
Sehubungan dengan hal tersebut saat dikonfirmasi, Lurah Sumber Agung, Garjito mengungkapkan belum ada perintah dari Walikota maupun Camat terkait permasalahan penutupan tersebut.
“Secara resmi belum ada, belum ada surat masuk terkait penutupan mungkin masih dikaji,” pungkas Garjito.
PENULIS : Bayu Pratama Sembiring
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

Sampah Masih Menjadi Masalah di Kelurahan Bandung Ujung

Terkait Cikencreng, 42 Orang Akan Wakili Masyarakat Audiensi Bersama Pemkot Lubuklinggau