Jalan Kelurahan Sumber Agung yang berada tepat di belakang Kantor Lurah Sumber Agung tampak rusak dan berlubang. Foto : Bayu Silmed
in

Galian C Ilegal Ganggu Warga Tiga Kelurahan

LUBUKLINGGAU, silmed.id – Galian C yang diduga ilegal nampaknya masih menjadi permasalahan serius di Wilayah Kota Lubuklinggau. Setelah sempat viral aliran sungai Kelingi yang diduga dibendung oknum untuk kepentingan pribadi, kini permasalahan Galian C mengganggu warga di tiga Kelurahan di Kecamatan Lubuklinggau Utara I, yaitu Belalau I, Sumber Agung dan Petanang Ulu.
Seperti misalnya disampaikan oleh Heri Padri, salah satu tokoh pemuda di Kelurahan Belalau I ini mengaku sangat terganggu dengan aktivitas mobil pengangkut batu Galian C yang mengambil batu di kuari sungai Malus.
“Kami sangat kecewa pada sikap pemerintah kota Lubuklinggau dalam hal ini Walikota Lubuklinggau dan DPRD Kota Lubuklinggau yang terkesan membiarkan adanya praktik galian c yang beroperasi lagi,”ungkap Heri kepada Silampari Media, Rabu (24/07/2019).
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kecamatan Lubuklinggau Utara I itu juga menerangkan bahwa aktivitas galian C tersebut merusak jalan kelurahan dan membuat jalan menjadi berdebu.
“Sebenarnya aktivitas itu sudah lama, namun sempat berhenti dan ini beroperasi lagi. Saya bingung apa maunya pemerintah membiarkan hal ini. Selain faktor debu yang menganggu pernapasan dan fasilitas umum seperti jalan makin rentan berlubang dan rusak, lantaran sering dilalui kendaraan bertonase berat. Kami selama inu diam, namun karena nampaknya mereka semakin semena-mena kami harus sampaikan suara kami,” terang Heri.
Lanjut ia, ia juga meminta Pemerintah Kota Lubuklinggau segera turun tangan, jangan seolah tidak peduli terhadap persoalan yang timbul akibat aktivitas Galian C tersebut, padahal dampak dari aktifitas Galian C tersebut telah meresahkan warga di sekitar area pertambangan.
“Untuk Pemerintah Kota Lubuklinggau dan DPRD Kota Lubuklinggau kami memohon menyikapi aktivitas Galian C yang dilakukan oleh beberapa perusahan yang terletak di Ulu Malus yang diindikasi kuat tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP)sebagaimana yang di atur dalam Undang-Undang No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan mineral dan batu bara. Kasihan warga yang terdampak,” ungkap aktivis yang juga merupakan kader HMI itu.
Selain dirinya, Bayu Pratama Sembiring yang merupakan Ketua Karang Taruna Kelurahan Sumber Agung juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya kegiatan penambangan tersebut tidak ada dampak positifnya.
“Kita tidak usah terlalu jauh berbicara tentang regulasi dulu. Ayo kita berpikir tentang dampak, jika memang ada positifnya tolong jelaskan oleh pihak perusahaan, namun sejauh ini belum terdengar ada warga yang berterimakasih, justru mengeluh. Apalagi kami di Sumber Agung permasalahan debu dan jalan yang rusak menjadi kerugian tersendiri,” ujarnya.
Selain itu, Ketua Karang Taruna Petanang Ulu berpendapat yang tak jauh berbeda. Ia menjelaskan dalam
Undang-undang (UU) No 4/2009 yang ditindaklanjuti dengan Surat Edaran (SE) Menteri Energi Sumberdaya Mineral No 03.E/31/DJB/2009 tertanggal 30 Januari 2009 terkait perizinan pertambangan mineral dan batu bara, sebelum terbitnya peraturan pemerintah (PP) sebagai pelaksanaan UU No 4/2009 harus mempertimbangkan kondisi dan keadaan lingkungan.
“Berdasarkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) juga mutlak dilakukan sebelum memberikan Izin Usaha Pertambangan, kita mempertanyakan apakah itu semua telah dilakukan atau tidak, kita tidak tahu. AMDAL tidak mungkin keluar jika merusak lingkungan apalagi sungai Malus menjadi sumber utama kehidupan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Sementara saat dikonfirmasi oleh Silampari Media, Lurah Belalau II, Saprizal, mengaku jika dirinya tidak ingin banyak bicara karena takut salah, padahal dirinya sudah mengetahui aktivitas Galian C itu.
“Iya tau soal galian C itu, sudah ada lama bahkan sebelum saya menjabat lurah. Namub Saya tidak mau menjelaskan terlalu banyak, takut salah, saya baru soalnya menjabat lurah. Nanti akan kami kabari lebih lanjut terkait tindak lanjutnya,” ujarnya singkat.
Lurah Sumber Agung, Garjito memberikan penjelasan yang sedikit panjang, bahwa dirinya mengetahui terkait aktivitas penambangan itu, bahkan pihaknya mengaku beberapa kali telah berhubungan dengan perusahaan yang mengangkut batu di galian C sungai Malus.
“Iya tahu kalau permasalahan itu, karena kelurahan kami ini hanya sebagai perlintasan jadi tidak terlalu terdampak galian C nya, namun mobil yang mengangkut itu menyebabkan jalan rusak. Kami sempat menghubungi dan katanya pihak BRU (perusahaan yang menambang di galian c sungai Malus, CV. Bania Rahmat Utama atau yang biasa disingkat BRU) bertanggung jawab untuk jalan. Tapi sudah tiga bulan tidak kunjung juga dibenahi. Ini terakhir ditelfon sekitar seminggu lalu dan masih belum juga,” ujar Garjito.
Namun dirinya sampai saat ini tidak mengetahui apakah BRU memiliki izin untuk menambang.

“Tidak tahu apakah ada izinnya atau tidak, karena izin itu kan yang mengeluarkan bagian perizinan bukan kami,” tambah Garjito.

Garjito juga mengkonfirmasi jika saat ini belum ada satupun laporan keluhan dari warga terkait mobil BRU yang lewat.
“Belum ada yang lapor secara resmi, saya himbau kepada masyarakat jika punya keluhan mohon sampaikan secara resmi ke pihak kelurahan agar tahu apa keluhannya,” tutupnya.
BRU sendiri saat ini untuk menuju Galian C sungai Malus melewati tiga Kelurahan yaitu Sumber Agung, Belalau I, dan Petanang Ulu. Ketiga jalan kelurahan tersebut nampak rusak dan belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
PENULIS : Bayu Pratama Sembiring
EDITOR : Aulia Azan Siddiq

MI Ittihadul Ulum Terapkan Program MDTA

Tim Pemkab Tinjau Lokasi Pembangunan Jalan