Ilustrasi
in

16 Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual

MUSIRAWAS,Silmed.id – Sebanyak 17 perempuan dan anak menjadi korban kekerasan seksual selama 2019. Salah satu kejadian melibatkan oknum kepala desa (Kades) di Kecamatan Suka Karya. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPA) Musi Rawas, Jamil Kamal kepada Silampari Media, Kamis (21/11/2019).

“Ada 16 anak menjadi korban kekerasan seksual, satu orang sudah dewasa. Dalam kasus pemerkosaan orang dewasa tersebut, melibatkan oknum kades, kini kasusnya sudah sampai ke pihak penegak hukum,”kata dia.

Menurut Jamil Kamal, anak-anak terbagi menjadi dua katagori yakni anak-anak umur 6 hingga 10 tahun, ada anak-anak umur 16 hingga 18 tahun. Untuk korban kekerasan seksual terhadap anak-anak yang umurnya dibawa 10 tahun, modus pelaku yakni memberikan iming-iming uang. Sedangkan untuk anak-anak umur 16 hingga 18 tahun, modus pelaku dengan menjadi pacar.

“Untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak, sudah masuk ke rana hukum. Dalam perkara tersebut ada korban hamil, anak yang dilahirkan oleh korban pemerkosaan terus kami pantau, sebab jangan sampai terjadi korban lainnya,”ungkapnya.

Dijelaskannya, untuk korban kekerasan seksual, ada anak yang masih status pelajar, ada juga yang memang tidak bersekolah.

“Mayoritas korban kekerasan seksual tersebut, warga pendatang yang bermukim di Kabupaten Musi Rawas,”ucapnya.

Lanjut dia, untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan seksual terhadap anak, dirinya menghimbau kepada para orang tua, untuk terus memantau kegiatannya anaknya.

”Jika anaknya masih berumur 10 tahun kebawa, pantau temannya bermain, begitu juga dengan yang umur 16 hingga 18 tahun, jangan diberikan kebebasan untuk pacaran,”himbaunya.

Selain melakukan pendampingan terhadap kekerasan seksual, pihaknya juga melakukan pendampingan terhadap korban perkara lainnya seperti kekerasan fisik terhadap anak yang terjadi sebanyak lima kasus, empat kasus menimpa anak laki-laki, satu menimpa anak-anak perempuan.

Kekerasan psikis terdapat satu kasus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak tiga kasus, kasus stigmatisasi sebanyak satu kasus.

“Untuk korban psikis, karena terintimidasi oleh teman-temannya disekolahan, anak tersebut mengalam penyakit autis namun tidak bisa disekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), jadi korban sekolah di SD negeri, korban dibulli oleh teman-temannya, kasus tersebut sudah berhasil diselesaikan setelah pihak keluarga dan kepala sekolah bertemu,”paparnya.

Untuk korban stigmatisasi, sambung dia, hampir sama dengan kasus korban psikis, korban merasa dan memang diasing.

”Mayoritas kejadian yang menimpa anak-anak tersebut, seperti kasus stigmatisasi dan psikis terjadi dilingkungan sekolah,”pungkasnya.

PENULIS : Dedi Ariyanto

Berkas Dua Balon Kades Jaya Bakti Tidak Lengkap

Ditegur Kemenpan-RB, Kebijakan CPNS Wajib KTP Lubuklinggau Dihapus